SEJARAH STUDI ISLAM DI ANDALUSIA

Dalam sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, tanah Spanyol lebih banyak dikenal dengan nama Andalusia, yang diambil dari  sebutan tanah semenanjung Iberia. Julukan Andalusia ini berasal dari kata Vandalusia, yang artinya negeri bangsa Vandal, karena bagian selatan semenanjung ini pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka dikalahkan oleh bangsa Gothi Barat pada abad V. Daerah ini dikuasai oleh Islam setelah penguasa Bani Umayyah merebut tanah semenanjung ini dari bangsa Gothi Barat pada masa khalifah Al-walid ibn Abdul Malik.

Abdurrahman al Dakhil adalah penakhluk sekaligus perintis kemajuan Andalusia yang memerintah selama 32 tahun memindahkan ibukota Andalusia dari Toledo ke Cordova sebagai pusat pengkajian ilmu pengetahuan. Dia membagi pendidikan kepada tiga tingkatan yakni :
1) tingkatan rendah, bertempat di mesjid dengan bidang studi menulis, membaca al Qur’an dan pelajaran tata bahasa Arab.
2) tingkatan menengah, sistem belajarnya adalah perseorangan sesuai dengan kemampuan pelajar, pun dipelajari bahasa Arab, sastra, sejarah, hadist, fiqh dan matematika.
3) tingkatan tinggi, sistemnya dijalankan secara informal oleh para profesor.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam  memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi empat periode, yaitu :

1.    Periode Pertama (711-755 M)

Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang dingkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum terkendali gangguan keamanan masih banyak terjadi di beberapa wilayah, karena pada masa ini adalah masa peletakan dasar, asas dan tujuan invansi Islam di Spanyol. Hal ini ditandai dengan adanya gangguan dari berbagai pihak yang tidak senang terhadap Islam. Sentralisasi kekuasaan ini masih di bawah Daulat Umayyah di Damaskus.

2.    Periode kedua (755-912 M)

Islam di Spanyol memberi pengaruh yang besar dalam kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan di Eropa. Baik dari politik maupun peradaban. Abdur Rahman Ad-Dakhil mendirikan mesjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.

3.    Periode ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung dimulai dari pemerintahan Abd Al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya Muluk al-Thawaif (raja-raja kelompok). Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar “khalifah”. Islam mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi Daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd Al-Rahman mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.

Prestasi umat Islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan, melainkan dengan kerja keras melalui beberapa tahap sistem pengembangan, baik melalui adaptasi maupun adopsi. Apa yang mereka lakukan tersebut sejalan dengan istilah sekarang yaitu islamisasi ilmu pengetahuan yang berasal dari khazanah non Islam.

4.    Periode keempat (1013-1086 M)

Pada peride ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tigapuluh negara kecil di bawah Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah perintah raja-raja golongan. Pada masa ini umat Islam di Spanyol mengalami pertikaian internal.

Ketika kekhalifahan Andalusia diperintah oleh Abdurrahman II, bidang Sastra, ilmu fisika dan gerakan penerjemahan literatur asing terutama ilmu-ulmu Yunani ke dalam bahasa Arab mengalami perkembangan yang tak tanggung. Kemajuan ilmu agama bermula dari rihlah para sahabat dan tabi’in bersama Musa Ibn Nushair dalam penaklukan Andalusia, di antaranya adalah al Munaizir dan al Munzir, Ali Ibn Rabah dan Hansy Ibn Abdullah al Shan’ani. Mereka adalah inspirator bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu-ilmu bidang agama di Andalusia.

Kekuatan intelektual muslim Spanyol sebenarnya baru dimulai pada abad kesepuluh, tetapi konstribusinya yang paling signifikan baru dilakukan selama periode paruh terakhir pada abad kesebelas hingga pertengahan abad ketiga belas. Pada saat ini Spanyol telah memantapkan bangunan fondasinya dalam dunia ilmu pengetahuan, yang telah dirintisnya beberapa waktu sebelumnya, termasuk diantaranya adalah dengan mulai masuknya Islam sejak abad ke VII.

Guna melakukan sosialisasi ilmu pengetahuan lebih lanjut, khalifah Abdul Rahman III mencoba merintisnya dengan mendirikan Universitas cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas ini mengambil tempat di sebuah mesjid. Pada masa pemerintahan Al-Hakam II (961-976 M), universitas tersebut diperluas lokasinya, dan bahkan mendatangkan para profesor dari timur (Al-azhar dan Nizamiyah) sebagai dosen undangan untuk memberikan perkuliahan disana.

Pola lembaga pendidikan yang ditawarkan pada masa itu telah emiliki kesamaan stratifikasi dengan pendidikan saat ini. Kesamaan itu adalah dengan diterapkannya tingkatan-tingkatan kelas tertentu dalam proses pendidikannya.

Pada dunia pendidikan Islam, yang di kawasan Timur mulai dikenal dengan madrasah, namun istilah madrasah ini belum banyak dikenal di kawasan Andalusia. Mesjid dan perpustakaan masih menjadi basis dalam pengembangan dunia ilmu pengetahuan. Istilah madrasah dikenal di Andalusia hingga abad ke 13 M. Baru pada pertengahan abad ke 14 M, sebuah bangunan madrasah yang besar didirikan di Granada oleh penguasa Nasrid, yaitu Yusuf Abu al-Hajjaj pada tahun 750 H. Pembangunan madrasah di Granada tersebut akhirnya menjadi contoh bagi pendirian madrasah-madrasah di tempat lain di Andalusia.

Lembaga pendidikan Spanyol Islam tidak bersifat parsial, akan tetapi bersifat integral. Sistem pendidikannnya tidak mengenal “isme” tertentu. Semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pendidikan. Pendidikan Spanyol Islam memberlakukan kurikulum universal dan komprehensif. Artinya, menawarkan materi pendidikan agama dan umum secara integral pada setiap tingkatan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.

Era Andalusia, banyak melahirkan ahli fiqh yang terkenal, sebagai indikator bahwa perkembangan ilmu fiqh sangat berarti. Di antara ahli tersebut, seperti al Awza’i, seorang ulama fiqh yang juga sebagai qadhi Iyad. Kemuadian murid Imam Malik yang terkenal dalam mengembangkan fiqh gurunya seperti Abdul malik Ibn Habib al Sullami, Yahya Ibn Yahya al Laits dan Isa Ibn Dinar. Yang terakhir adalah ulama faqih dan juga pernah menjadi qadhi al qudhah di zaman Abd. Rahman al Nashir menulis kitab al Hidayah, yang menurut Ibn Hazm sebagai buku fiqg Maliki terbaik sedangkan menurut ahli sejarah menempatkan karya fiqh Isa Ibn Dinar di masa tersebut sebagai karya fiqh terluas dan terdalam isinya.

Selain mereka yang sudah disebutkan, tokoh lain adalah seorang faqih yang sangat mashur sampai sekarang yatu Ibn Rusyd dengan karya monumnetalnya yaitu Bidayatu al Mujtahid. Keistmewaan kitab ini adalah Ia menyebutkan perbedaan pendapat para ahli fiqh dalam berbagai hal yang terjadi dengan menyebutkan sebab dan alasannya masing-masing. Di samping itu Ibn Rusyd juga seorang tokoh filosof termashur, dimana di Eropa alirasnya dinamakan gerakan averoes.

Dalam bidang ilmu bahasa, muncul tokoh Ibn Hasan al Zubaydi, murid al Qilli. Dia membukukan dengan mencatat tokoh-tokoh di bidang ilmu bahasa, kemudian karya tersebut dilanjutkan dengan lengkap oleh suyuth dalam kitabnya Muzhir. Perkembangan ilmu filsafat dan sain di zaman ini ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh filosof seperti Ibn bajah yang terkenal dengan karyanya The Rule Of Solitary. Di samping itu, dia juga terkenal jago dalam ilmu matematika, astronomi dan musik. Ibn Tufail mengakui kecerdasan Ibn Bajah sebagai seorang filosof.

Pada masa ini juga lahir tokoh ahli sejarah, seperti Ibn Hayyan (w. 1076 M) yang merupakan sejarawan pertama Andalusia. Kemuadian Ibn Khaldun (w. 1406 M) yang terkenal dengan karyanya Muqaddimah. Ahli Astronomi Spanyol yang terkenal saat itu adalah al Majriti, al Zarqali dan Aflah. Al Majriti terkenal sebagai seorang pakar sains muslim yang berhasil mengedit dan mengoreksi tabel-tabel perbintangan al Kawarizmi.

Dalam bidang botani, kita mengenal Ibn al Baytal yang mengarang kitab botaminya yakni al Mughni fi al Mafradah.

Pakar di bidang sains lainnya adalah Ibn Abi al Shalt yang terkenal sebagai ahli mesin dan Abbas Ibn Farnas yang populer sebagai ahli astronomi, matematika, kimia, seni dan ahli musik. Di bidang ilmu bumi ada Ibn Jubair dan Ibn Batuthah yang terkenal dengan perlawatannya ke berbagai negara, termasuk mengunjungi Samudera Pasee. Di bidang seni sastra dan arsitektur. Di era kekhalifahan Andalusia juga mengalami perkembangannya. Abdurrahman al Nashir adalah salah seorang ahli kesusteraan.

Tokoh penyair istana yang terkenal saat itu adalah Abu al Makhsyi. Sedangkan sastrawan andal Abu Umar Ahmad Ibn Muhammad menulis karya satranya al Iqd al Farid, dan juga Muhammad Ibn Hani al Andalusi yany digelar “mutanabbi dari barat” banyak mehirkan karya-karya santranya.

Di bidang seni bangunan, Islam Spanyol telah banyak mewariskan bangunan dengan gaya arsitektur indah dan unik, seperti bangunan “al Hamra” yang terletak di Granada. Bangunan megah lainnya seperti mesjid Cordova, istana Ja’fariah di Saragosa, tembok Toledo, istana al Makmun, mesjid seville dan kota al Zahra merupakan warisan masa Andalusia yang monumental serta bisa dirasakan oleh anak generasi era globalisasi saai ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s